Jalan Kekudusan

 

Kata “Kudus” selalu berkaitan dengan tugas-tugas mulia yang langsung diberikan oleh Tuhan Yesus Kristus. Sungguh tugas yang amat berat yang selalu kita bayangkan di dalam pikiran kita. Apakah untuk menjadi orang kudus kita harus menjadi seorang biarawan atau biarawati? Sebenarnya apa makna kekudusan bagi kita sebagai orang Katholik? Coba kita lihat diri kita kembali apakah kita telah mulai merintis menuju jalan menuju kekudusan. Jalan menuju kekudusan sangatlah berat dan penuh liku. Setiap godaan-godaan yang datang silih berganti akan selalu mengikuti kita.

“Iman tanpa perbuatan akan mati”. Kalimat ini seharusnya menyadarkan kita untuk lebih bersemangat lagi merintis jalan kekudusan. Seperti pada cerita Zakheus si pemungut cukai, dia adalah seorang pemungut cukai/penarik pajak tanpa pandang bulu. Mau orang itu miskin atau kaya dia pasti menarik pajak dari mereka. Setelah dia bertemu dengan Yesus, dia malah bertobat dan bahkan berjanji mengembalikan semua pajak yang telah dia tarik empat kali lipat dengan sebagian hartanya dan menjadi pengikut Yesus. Cerita ini telah membuktikan kepada kita bahwa jalan menuju kekudusan itu tidaklah mudah. Kita harus rela berkorban, siap menghadapi segala godaan-godaan, dan juga siap melaksanakan perintah dan larangan-Nya. Seorang Zakheus pun harus memanjat Pohon Ara untuk melihat Yesus di antara kerumunan orang-orang. Walaupun tubuhnya pendek dan kecil, dia tetap berusaha memanjat pohon tersebut. Kita sebagai orang muda-mudi seharusnya malu dengan Zakheus. Kita terkadang malas untuk ke Gereja, meremehkan orang lain, dan menganggap diri kita paling sempurna berlagak layaknya orang paling keren dan menganggap semua orang tidak lebih baik dari kita.

Ada seorang teman pernah bercerita dia menghitung setiap uang yang dia berikan kepada seorang pengemis atau pengamen, misalnya: 1 hari dia bertemu 3 orang pengemis, memberinya uang Rp 1.000,00 per orang lalu dia bilang, “Kalau seperti ini terus aku lakukan pasti bakalan bangkrut dech 1 orang Rp 1.000,00 berati 1 bulan aku sudah menghabiskan hampir ratusan ribu”.

Yesus tidak pernah mengajarkan kita wajib memberi uang kepada setiap pengemis atau pengamen. Amal tanpa disertai hati yang ikhlas sama saja menentang ajaran Allah tentang belas kasihan. Dengan contoh di atas kita dapat menilai bahwa jalan menuju kekudusan sebenarnya pun berada di sekiling kita dan di kehidupan sehari-hari kita. Pernahkah kita berpikir bahwa menolong orang lain yang sungguh-sungguh membutuhkan bantuan kita dapat membimbing kita merintis jalan menuju kekudusan. Begitu pula ke gereja tanpa paksaan dan memang berniat untuk berbicara langsung dengan Tuhan merupakan suatu cara paling mudah untuk merintis jalan menuju kekudusan karena kita telah berhasil memenangkan godaan-godaan iblis yang menyebabkan kita malas ke gereja. Setiap perbuatan yang kita lakukan dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya telah menuntun kita menuju jalan kekudusan sebagai pengikut dan murid-Nya. Jangan menilai seseorang dari fisiknya tetapi nilailah seseorang dari perbuatan dan hatinya. Tuhan mengajarkan kita bukan fisiknya yang akan dikuduskan melainkan perbuatan dan hatinya yang akan dikuduskan serta beroleh kasih setia dari Allah. Semua perbuatan yang kita lakukan harus dilakukan dalam nama Tuhan.

Advertisements

About agathavonilia

Hanya mencoba menulis... Eh... Terus ketagihan deh... Bergabung dengan FLP dan KOBIMO tahun 2014... Cerpen pertama masuk dalam antology book "Coretan Inspirasiku"... Menulis artikel di Media Paroki tergantung tema yang menarik... ^_^
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s